
Deli Serdang, Galaxy Monitor ,19 Januari 2026
Pelebaran Sungai Berdera (Parit Busuk) Diduga Abaikan AMDAL, Warga Deli Serdang Terancam Dampak Lingkungan
Proyek pelebaran Sungai Berdera yang dikenal masyarakat sebagai Parit Busuk di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, diduga kuat mengabaikan ketentuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Dugaan ini mencuat seiring munculnya berbagai dampak lingkungan yang mulai dirasakan warga di sekitar aliran sungai.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, pelaksanaan proyek dinilai sarat kejanggalan. Terlihat adanya penimbunan bantaran sungai, perubahan alur air di beberapa titik, serta tidak adanya sistem pengamanan dan pengendalian dampak lingkungan yang memadai. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu banjir dan merusak ekosistem sungai.
Ironisnya, proyek yang disebut sebagai upaya normalisasi sungai justru menimbulkan kekhawatiran baru. Saat hujan turun, debit air Sungai Berdera meningkat drastis dan meluap ke area sekitar. Hal ini memperkuat dugaan bahwa perencanaan dan pelaksanaan proyek tidak sejalan dengan dokumen AMDAL, atau bahkan AMDAL hanya dijadikan syarat administratif semata.
“Kalau AMDAL benar-benar dijalankan, dampaknya tidak akan separah ini. Sekarang setiap hujan kami selalu waswas,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Lebih jauh, warga mengaku tidak pernah dilibatkan dalam proses sosialisasi AMDAL sebelum proyek dimulai. Di lokasi pekerjaan pun tidak ditemukan papan informasi proyek yang memuat dokumen lingkungan, penanggung jawab kegiatan, maupun saluran pengaduan masyarakat, sebagaimana diwajibkan dalam peraturan perundang-undangan.
Minimnya transparansi ini memunculkan dugaan lemahnya pengawasan dari instansi terkait. Jika terbukti AMDAL diabaikan, maka proyek pelebaran Sungai Berdera berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, Dinas Lingkungan Hidup, serta dinas teknis terkait untuk segera melakukan audit lingkungan secara menyeluruh. Penghentian sementara proyek dinilai perlu dilakukan hingga ada kepastian bahwa seluruh tahapan pekerjaan sesuai dengan aturan dan tidak membahayakan keselamatan warga.
Baca juga: Ribuan Orang Keracunan MBG di Bandung Barat Terungkap, Ini Penyebabnya!! Jawa Barat // Sebanyak 1.333 orang lebih menjadi korban keracunan akibat Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Ternyata keracunan ini disebabkan oleh bakteri, Senin.(30/9/25) Keracunan massal ini terjadi setelah para korban menyantap MBG di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, hingga penghitungan Jum'at (26/9) yang lalu. Selain di Bandung Barat, sebanyak 657 orang mengalami gejala keracunan akibat mengonsumsi MBG di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Para korban keracunan pun beberapa sempat dipulangkan. Namun, ada pula korban yang datang kembali karena gejala muncul lagi. “Jadi semalam kami temukan 4 pasien KLB keracunan yang datang lagi padahal sebelumnya sudah dinyatakan membaik. Kebetulan saya kan ikut menangani langsung, jadi saya juga hafal betul wajahnya,” ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat Lia N. Sukandar. Setelah dilakukan penanganan medis, petugas kemudian melakukan anamnesa terhadap pasien tersebut. Anamnesa atau pengumpulan informasi medis melalui wawancara dengan pasien mengemukakan fakta bahwa penyebab gejala berulang itu karena keawaman pasien dan keluarga. “Jadi setelah kita tanya, mereka makan apa di rumah karena kan kita tidak tahu. Ternyata ada yang dikasih jeruk, terus makan ayam goreng, nah apakah itu beli atau masak sendiri kan kita nggak tahu. Jadi hal-hal itu yang membuat mereka bergejala lagi,” kata Lia. Petugas Siaga Dia pun menginstruksikan semua petugas yang siaga di posko penanganan GOR Kecamatan Cipongkor serta tempat penanganan pasien KLB keracunan lainnya agar mengedukasi pasien dan keluarganya soal apa yang boleh dikonsumsi di rumah setelah dinyatakan membaik. “Jadi saya sudah wanti-wanti ke petugas agar mengedukasi pasien bahwa ketika pulang dan dinyatakan membaik itu jangan makan yang macam-macam dulu. Cukup makan bubur saja dan harus yang dimasak sendiri,” ujar Lia. Saat ini di posko penanganan GOR Kecamatan Cipongkor tersisa 12 pasien keracunan massal. Ia siaga menerima pasien baru maupun pasien dengan gejala berulang. Bakteri Jadi Penyebab Keracunan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat mengungkapkan penyebab 1.333 orang ini. Ternyata penyebabnya karena bakteri Salmonella dan Bacillus cereus. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Labkesda Dinas Kesehatan Jawa Barat dr Ryan Bayusantika Ristandi menyampaikan bahwa bakteri ditemukan dari sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperiksa tim laboratorium. “Hasil pemeriksaan kami menunjukkan adanya bakteri pembusuk, yakni Salmonella dan Bacillus cereus yang berasal dari komponen karbohidrat dalam makanan,” kata Ryan. Dia menjelaskan, salah satu penyebab utama kontaminasi adalah rentang waktu penyiapan hingga penyajian makanan yang terlalu lama. Hal ini memungkinkan bakteri berkembang biak. Jika makanan disimpan pada suhu ruang lebih dari enam jam, apalagi tanpa pengontrolan suhu yang tepat, risiko tumbuhnya bakteri sangat tinggi,” ujarnya. Pentingnya Jaga Higienitas Ryan menekankan pentingnya menjaga higienitas dalam proses pengolahan makanan, mulai penggunaan air bersih hingga kebersihan petugas dapur. Dia menyarankan agar makanan disimpan pada suhu di atas 60 derajat Celsius atau di bawah 5 derajat Celsius untuk mencegah pembusukan. “Pemasak juga harus mengenakan sarung tangan, pakaian bersih, dan memastikan tidak ada terkontaminasi dari bahan lain,” tuturnya. Dinkes Jabar juga mengimbau semua pihak yang terlibat dalam program MBG untuk memperketat protokol keamanan pangan guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang. (Red/Tim)
Warga menegaskan tidak menolak pembangunan, namun menolak pembangunan yang dilakukan tanpa memperhatikan dampak lingkungan dan keselamatan masyarakat. Tanpa evaluasi serius, pelebaran Sungai Berdera dikhawatirkan akan menjadi ancaman lingkungan jangka panjang.
“Pembangunan jangan sampai mengorbankan rakyat. AMDAL harus ditegakkan, bukan diabaikan,” tegas warga.
Editor. : GALAXY MONITOR
Reporter: SAM