banner 728x250

Pelebaran Ruas Jalan Batankrajan Penompo, Langkah Nyata Pemkab Mojokerto Wujudkan Infrastruktur Berkualitas Bagi Masyarakat

Pelebaran Ruas Jalan Batankrajan Penompo, Langkah Nyata Pemkab Mojokerto Wujudkan Infrastruktur Berkualitas Bagi Masyarakat

banner 120x600
banner 468x60
BAGIKAN

 


MOJOKERTO, Galaxy  Monitor.id ( GM ) 24 Juli 2026.

banner 325x300

Pemerintah Kabupaten Mojokerto melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), terus bergerak cepat mewujudkan infrastruktur jalan yang memadai untuk mendorong kemajuan daerah. Salah satu prioritas utama pada Tahun Anggaran 2026, adalah pelaksanaan pekerjaan pelebaran ruas jalan Batankrajan–Penompo yang dirancang sesuai standar teknis guna menjawab kebutuhan mobilitas warga yang semakin meningkat setiap tahunnya.

Bupati Mojokerto Gus Barra menegaskan bahwa setiap proyek pembangunan jalan di wilayahnya, harus berlandaskan prinsip 5T, yakni tepat waktu, tepat mutu, tepat volume, tepat sasaran, dan tepat administrasi. Prinsip itu, menurutnya harus dijunjung tinggi agar setiap rupiah yang dialokasikan dari keuangan daerah benar-benar memberikan manfaat maksimal, aman, dan awet untuk seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Mojokerto.

Diketahui, pelebaran ruas jalan Batankrajan–Penompo tersebut dibiayai sepenuhnya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2026 dengan total nilai investasi sebesar Rp2.377.047.000,00. Pekerjaan ini dilaksanakan oleh pelaksana yang telah melalui proses seleksi ketat, yaitu CV. Alfi Jaya, dengan target selesai dikerjakan selama 150 hari kalender terhitung mulai 4 Juni hingga 31 Oktober 2026.

Secara teknis, ruas jalan tersebut akan dilebarkan mencapai ukuran 5,50 meter dengan panjang total 490 meter, yang nantinya akan memenuhi standar jalan kabupaten yang aman untuk dilalui sepeda motor, maupun kendaraan lainnya sesuai kapasitas jalan. Peningkatan dimensi jalan ini menjadi langkah strategis untuk mengurangi kemacetan, memperlancar pergerakan barang dan jasa, serta menurunkan resiko kecelakaan lalu lintas di jalur itu.

Manfaat utama dari penyelesaian proyek tersebut adalah semakin lancarnya hubungan ekonomi dan sosial antar warga di wilayah sekitar maupun antar wilayah Kabupaten Mojokerto. Petani, pedagang, dan pelaku usaha kecil di desa Batankrajan, Penompo, dan sekitarnya nantinya dapat mengirimkan hasil bumi maupun produk dagangan dengan lebih cepat, biaya transportasi yang lebih murah, serta resiko kerusakan barang yang lebih kecil.

Pemerintah Kabupaten Mojokerto juga mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan DPUPR maupun instansi terkait untuk bersatu dalam satu komando, bekerja dengan dedikasi tinggi, disiplin, profesionalisme, serta menjunjung tinggi integritas dan etika pelayanan publik. Komitmen ini menjadi pondasi agar setiap tahapan pembangunan berjalan transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat.

Baca juga:  Dibalik Layar Demokrasi: 'Jeritan Jurnalis Independen yang Tak Terdengar!!' Sumatera Utara // Katanya, jurnalisme adalah pilar demokrasi. Tapi, coba tengok nasib para jurnalis independen yang berjuang sendirian. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, atau mungkin lebih tepatnya, badut di panggung kekuasaan yang sesekali diizinkan tampil, Sabtu.(27/9/25) Terikat Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, mereka diharapkan menjadi anjing penjaga kebenaran. Tapi, di tengah hutan belantara informasi dan kepentingan, siapa yang menjaga anjing penjaga itu sendiri?. Di era digital yang katanya serba bebas ini, media online mandiri bermunculan bagai jamur di musim hujan. Namun, jangan tertipu dengan gemerlap dunia maya. Di balik layar, para jurnalis independen ini berdarah-darah demi mempertahankan eksistensi. Mereka adalah "one-man show" yang harus melakukan segalanya sendiri, dari mencari berita, menulis, mengedit, mempublikasikan, hingga membayar tagihan hosting. Sebuah orkestra tunggal yang tak pernah mendapat tepuk tangan meriah. "Idealisme?, Tentu saja!", Para jurnalis independen ini punya keyakinan kuat untuk menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan bermanfaat bagi masyarakat. Mereka ingin menjadi suara bagi mereka yang tidak terdengar, mengungkap fakta-fakta yang disembunyikan, dan mengawasi jalannya pemerintahan. Namun, idealisme saja tidak cukup untuk membeli beras, apalagi membayar sewa kontrakan. Ironisnya, banyak jurnalis independen yang harus mencari penghasilan tambahan di luar dunia jurnalistik. Ada yang menjadi penulis lepas, konsultan media sosial, atau bahkan berjualan online. Mereka bekerja keras untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga, sementara media online mereka terbengkalai. Sungguh pilu!, Seperti kata pepatah Jawa, "Jer Basuki Mawa Beya", untuk mencapai kesuksesan memang dibutuhkan pengorbanan. Namun, pengorbanan seperti apa yang pantas untuk sebuah idealisme yang tak dihargai, bahkan seringkali diinjak-injak?. Jangan harap para narasumber akan menghargai keberadaan jurnalis independen. Bagi mereka, media online mandiri hanyalah secuil debu di antara media mainstream yang gemerlap. Mereka lebih memilih untuk memberikan informasi kepada media yang lebih populer, tanpa peduli dengan upaya jurnalis independen yang juga ingin berkontribusi dalam menyebarkan informasi. Lebih parah lagi, tak jarang para jurnalis independen ini harus menghadapi perlakuan tidak pantas dari pihak tertentu atau oknum pejabat. Mereka diremehkan, diintimidasi, bahkan dihalang-halangi dalam menjalankan tugas jurnalistik. Pernahkah kita mendengar kisah jurnalis yang diusir dari acara publik, atau diancam hanya karena bertanya terlalu kritis?, Beberapa oknum bahkan tak segan-segan melontarkan kata-kata kasar atau melakukan tindakan kekerasan, seolah mereka pengganggu, bukan pencari kebenaran. Luka ini semakin menganga ketika para pelaku seolah kebal hukum dan bebas berkeliaran. Sungguh ironis!. Yang lebih menyakitkan, terkadang ada narasumber yang seolah-olah butuh kehadiran jurnalis independen untuk meliput acara atau kegiatan mereka. Padahal, narasumber sangat memerlukan karya-karya para jurnalis ini untuk mempublikasikan atau pencitraan profil dan aktivitas mereka. Mereka butuh sorotan, butuh pengakuan, butuh "branding" gratis. Akan tetapi, sering kali mereka tidak pernah merasa bahwa peranan para jurnalis ini memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Setelah para jurnalis ini bersusah payah meliput, menulis, dan mempublikasikan berita, mereka justru diperlakukan dengan tidak hormat. Jangankan memberikan penghargaan atau penghormatan, ucapan terima kasih pun jarang terdengar. Rasanya seperti peribahasa Sunda, "Kawas Cileuncang jauh ka tegalan," usaha yang sia-sia karena tak dihargai, bak air genangan yang tak pernah mencapai ladang yang kering. Padahal, alangkah indahnya jika para narasumber ini memberikan sedikit "Persembahan Kasih", sebagai ucapan terima kasih atas kerja keras para jurnalis. Bukan soal materi semata, tapi lebih kepada bentuk apresiasi dan pengakuan atas kontribusi mereka yang tak ternilai dalam membangun citra dan menyebarkan informasi. Sayangnya, hal ini masih menjadi mimpi di siang bolong. Sungguh memilukan! Jurnalis independen itu seperti lilin yang rela membakar diri sendiri demi menerangi kegelapan. Mereka berkorban demi menyajikan informasi yang benar dan akurat kepada masyarakat. Namun, seringkali mereka dilupakan dan diabaikan, sementara para pejabat dan narasumber lebih memilih untuk bersinar dengan lentera yang terang benderang. "Mereka lupa, lentera itu tidak akan menyala tanpa lilin yang rela berkorban!!". Atau, mungkin lebih tepatnya, jurnalis independen itu seperti petani yang menanam padi di sawah. Mereka bekerja keras membajak sawah, menanam bibit, dan merawat tanaman. Namun, ketika panen tiba, mereka hanya mendapatkan sedikit hasil, sementara para tengkulak dan pedagang besar yang menikmati keuntungan berlimpah, Sungguh tidak adil. Meski menghadapi berbagai tantangan, jurnalis independen tidak menyerah. Mereka terus berjuang dengan kreativitas dan inovasi. Mereka memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan audiens, membangun jaringan dengan komunitas, dan mencari sumber pendanaan alternatif. "Biar lambat asal selamat," mungkin itu yang menjadi pegangan mereka, seperti peribahasa Minahasa. Lebih baik berhati-hati dan tetap berpegang pada etika, daripada terburu-buru dan mengorbankan idealisme. Namun, sampai kapan mereka mampu bertahan sendirian?. Memang tidak semua pejabat atau narasumber bersikap demikian. Ada pula yang menghargai dan mendukung kerja keras jurnalis independen. Namun, jumlah mereka masih terlalu sedikit untuk menciptakan perubahan signifikan. Kehadiran jurnalis independen adalah aset berharga bagi dunia jurnalistik dan demokrasi kita. Mereka memberikan warna baru, perspektif yang berbeda, dan keberanian untuk mengangkat isu-isu yang mungkin terabaikan oleh media mainstream. Jika kita tidak ingin melihat pilar demokrasi ini runtuh, sudah saatnya kita semua bergerak. Dukungan bisa datang dalam berbagai bentuk: membaca dan membagikan karya mereka, memberikan donasi kecil, atau bahkan sekadar menyuarakan apresiasi. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian, karena jika suatu saat nanti mereka menyerah dan memilih untuk menjadi badut sungguhan di panggung hiburan, maka yang rugi adalah kita semua, masyarakat yang kehilangan mata dan telinga kebenaran. Semoga artikel ini bisa membuka mata hati kita semua, dan menyadarkan bahwa menjaga jurnalisme independen adalah menjaga demokrasi itu sendiri.(Red/Tim) Sumber: Romo Kefas (Kefas Hervin Devananda). Penulis adalah salah seorang jurnalis  di Pewarna Indonesia yang aktif mengangkat isu-isu kebebasan beragama dan hak asasi manusia. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik telah memberikan kontribusi nyata dalam menyuarakan kebenaran."

Menyikapi berbagai masukan dan kekhawatiran yang muncul dari warga terkait proses pelaksanaan pekerjaan, DPUPR Kabupaten Mojokerto menyatakan akan selalu membuka ruang komunikasi yang luas bagi seluruh elemen masyarakat. Karenanya, setiap informasi dan keluhan yang disampaikan akan dicatat, diteliti secara mendalam, dan ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur serta ketentuan teknis yang berlaku di bidang pekerjaan umum.

Mengenai jenis material yang digunakan pada pekerjaan pondasi jalan, perlu diketahui bahwa sesuai standar konstruksi jalan di Indonesia, material yang digunakan adalah jenis yang lazim dan sah dipergunakan, asalkan memenuhi spesifikasi teknis serta standar pengujian kualitas yang ditetapkan instansi berwenang. Pemilihan material juga disesuaikan dengan kondisi tanah setempat guna menjamin konstruksi jalan menjadi kokoh dan tahan lama.

Pelaksana pekerjaan CV. Alfi Jaya menegaskan bahwa setiap jenis material yang dibawa ke lokasi proyek telah melalui tahap pemeriksaan kualitas terlebih dahulu sebelum diaplikasikan ke lapangan. Pemeriksaan itu meliputi kadar lumpur, ukuran butiran, serta daya dukung material, sehingga menjamin bahwa penggunaan material tersebut tidak akan mengurangi kualitas dan kekuatan struktur jalan yang dibangun.

Pemerintah Kabupaten Mojokerto juga menekankan bahwa pengawasan proyek berjalan secara berjenjang, mulai dari pengawasan harian petugas lapangan DPUPR, pengawasan teknis jasa konsultan, hingga pengawasan internal dan eksternal yang dilakukan secara berkala. Setiap tahapan pekerjaan, tidak akan dilanjutkan sebelum dinyatakan memenuhi standar mutu oleh tim pengawas yang berwenang.

Keterangan yang menyatakan pelaksanaan tanpa pengawasan profesional, belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Sebab, tim teknis DPUPR Kabupaten Mojokerto secara rutin melakukan kunjungan dan pemeriksaan langsung ke lokasi pekerjaan untuk memantau kemajuan, memastikan kesesuaian spesifikasi, serta memberikan arahan teknis apabila ditemukan hal yang perlu diperbaiki.

Saat ini, Kepala Bidang Bina Marga DPUPR Kabupaten Mojokerto, Henry Surya, akan segera menyampaikan tanggapan rinci beserta data teknis pendukung terkait masukan warga kepada awak media dan masyarakat. Penyampaian tersebut, bertujuan untuk menjamin informasi yang disajikan lengkap, akurat, dan menjadi penjelasan yang memadai bagi seluruh pihak.

Baca juga:  Bumi Anoa Nusantara Festival Usung "Mangkasara' Molulo 2026": Sinergi AMBA SULTRA dan Lembaga Adat Kerajaan Gowa di Kota Makassar

Lebih lanjut, Pemerintah Kabupaten Mojokerto sangat menghargai perhatian dan kepedulian warga terhadap kualitas pembangunan di lingkungannya. Oleh karena itu, partisipasi masyarakat dapat menjadi mitra penting bagi pemerintah dalam menjaga kualitas setiap proyek pembangunan, sehingga nanti hasilnya benar-benar sesuai dengan harapan bersama.

Pelebaran ruas jalan Batankrajan–Penompo merupakan bagian dari rencana induk pengembangan jaringan jalan Kabupaten Mojokerto yang bertujuan menghubungkan wilayah potensi pertanian dan pariwisata agar lebih terintegrasi. Ke depannya, jalan tersebut juga akan mendukung aksesibilitas fasilitas umum seperti sekolah, puskesmas, dan tempat ibadah bagi warga sekitar.

Hingga saat ini, kemajuan pekerjaan berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, dan diprediksi dapat selesai lebih awal atau tepat waktu pada 31 Oktober 2026. Dengan selesainya proyek tersebut, diharapkan kualitas hidup masyarakat di sepanjang ruas jalan Batankrajan–Penompo semakin meningkat, pertumbuhan ekonomi lokal semakin bergairah, serta tercipta lingkungan yang lebih nyaman dan aman.

Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Mojokerto akan terus berupaya menghadirkan infrastruktur terbaik sebagai wujud nyata pelayanan untuk kemajuan seluruh warga Mojokerto.

Team Galaxy Monitor.id ( GM )

Harus Berimbang dan Persuasif 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *