banner 728x250

FPPP Dideklarasikan, Pemko Medan Dukung dan Siap Bekerjasama

banner 120x600
banner 468x60
BAGIKAN

MEDAN :, Galaxy Monitor 25 November  2025, Merasakan keresahan dan kegelisahan kondisi bangsa dalam satu dekade belakangan ini, memunculkan ide-ide ataupun gagasan dari sejumlah tokoh bagaimana upaya bersama untuk memberikan masukan agar perjalanan bangsa dan negara ini dapat berjalan baik sesuai dengan panduan hidup bangsa dan negara yaitu Pancasila.

banner 325x300

Sekalian dengan itulah maka tokoh-tokoh tersebut diantaranya Daudsyah Munthe, Syarifuddin Siba, Irwansyah Nasution, Sakhyan Asmara, Rusdi Lubis, Datuq Adil Haberham, Harmen Ginting, Wara Sinuhaji, Muazad Zein, Marah Husein Lubis, Azwar, Effendi Manulang, Harun Al Rasyid, HA Nuar Erde dan yang lainnya sepakat mendirikan suatu kumpulan yang bernama Forum Pengawal Pengamalan Pancasila (FP3). Forum tersebut dideklarasikan pada Senin 17 November 2025 di Aobi Cafe Jalan Singgalang No 1 Medan.

Sejumlah tamu yang merupakan tokoh-rokoh di Sumatera Utara dan kota Medan hadir dan mendukung penuh pendeklarasian F3 tersebut. Antara lain Donald Sidabalok, Hendra DS, Subandi SH, Erick, dan lainnya bahkan Pemko Medan yang diwakili Drs Ody Prasetyo MSP, Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Medan pun hadir serta mendukung penuh terbentuk dan dideklarasikannya F3 dan Pemko Medan siap bekerjasama dan bergerak secara nyata.

Daudsyah Munthe inisiator dan sebagai Ketua Forum Pengawal Pengamalan Pancasila dalam sambutan saat pendeklarasian mengatakan akibat kegelisahan dan keresahan itu kami telah berdiskusi panjang dan menemukan rumusan memberikan gagasan untuk memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebab kata Daud lagi, Bupati Labuhan Batu Utara saat pemekaran, selama
30 tahun melakukan aktivitas berada dalam naungan Pancasila berjalan dengan baik aman dan tertib. Walau disana sini masih ada kekurangan dan keganjilan.

“Kita cinta ORLA karena Pancasila digaungkan Sang Proklamator Bung Karno. Setelah itu Pancasila dijaga dan dikawal Pak Harto. Jadi kita hormat sama Bung Karno karena kepemimpinanannya dan melahirkan Pancasila. Namun Pancasila belum menjadi kekuatan dalam masa itu. Di zaman Pak Harto kita merasa ikut di dalamnya. Tetapi karena kesibukan masing-masing, kita sama datang kemari. Sebab ada benang merah dengan Pancasila. Karena kita cinta Pancasila dan kita cinta NKRI,” kata Daudsyah Munthe.

Dikatakannya, Pancasila saat ini sudah meluncur tetapi belum sepenuhnya menjadi jati diri anak bangsa. Dan saat ini kita sepakat hadir untuk lebih mencintai Pancasila, membangun kebersamaan dalam suasana komunikasi persatuan dan kesatuan. Dalam kondisi Pancasila yang semakin memudar, kita bangkitkan lagi. Tutur sapa, hormat menghormati harus kita bangun agar Pancasila tetap utuh dan meningkat lalu kita bisa hidup dengan aman dan damai di negeri ltercinta. Karena itulah kami menilai perlu wadah ini untuk memberikan sumbangsihnya kepada bangsa dan negara.

Baca juga:  Duka Mendalam Sabam Rajagukguk: Kehilangan Sosok Tegas dan Lembut Irjenpol (P) Edward Aritonang Cibubur — Duka mendalam menyelimuti keluarga besar almarhum Irjenpol (P) Drs Edward Aritonang MM. Malam yang hening di Komplek Perumahan Raffles Hill Blok F5 No. 7, Cibubur, Sabtu (14/03/2026), menjadi saksi kedatangan sejumlah pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Salah satu yang hadir adalah Sabam Rajagukguk, anggota DPR RI Komisi I dari Fraksi Gerindra. Dengan wajah penuh haru, Sabam datang langsung ke rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Di hadapan jenazah almarhum, Sabam terlihat berdiri dengan tangan terlipat, memanjatkan doa. Suasana hening menyelimuti ruangan. Tubuh kaku almarhum Irjenpol (P) Edward Aritonang terbaring tenang, dikelilingi keluarga dan kerabat yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Bagi Sabam Rajagukguk, sosok almarhum bukan sekadar tokoh yang ia kenal. Ia adalah bagian dari keluarga besar Toga Aritonang dan figur yang sangat dihormati dalam perjalanan hidupnya. Sabam mengenang almarhum sebagai sosok bapak yang sering ia temui, baik di Jakarta maupun pada masa sebelum Pemilihan Legislatif. Salah satu pertemuan yang paling ia ingat terjadi di Hotel Noah, ketika almarhum memberikan banyak nasihat dan motivasi tentang kehidupan. “Bapatua ku ini saya anggap sebagai mentor dalam hidup saya,” ujar Sabam dengan suara yang sarat emosi. Menurutnya, meskipun telah purna tugas dari kepolisian, almarhum tetap menunjukkan semangat hidup yang luar biasa. Ia tidak pernah berhenti memberi contoh kepada generasi muda untuk tetap kuat menghadapi kehidupan. Sabam mengatakan, almarhum selalu mengingatkan agar tidak pernah menyerah pada keadaan. Sikap tegas yang dimiliki almarhum selalu dibarengi dengan kelembutan saat memberikan arahan dan nasihat. “Beliau sosok yang tegas, namun tetap lembut dalam memberikan arahan maupun nasehat,” ungkap Sabam. Kepergian Irjenpol (P) Drs Edward Aritonang MM meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang yang pernah mengenalnya. Tidak hanya sebagai figur yang dihormati, tetapi juga sebagai sosok yang selalu memberi semangat dan motivasi kepada banyak orang di sekitarnya. Bagi Sabam Rajagukguk dan keluarga besar, kehilangan ini terasa sangat berat. Sosok yang selama ini menjadi tempat bertanya dan menerima nasihat kini telah berpulang. Namun, kenangan tentang ketegasan, kebijaksanaan, dan semangat hidup almarhum akan tetap hidup dalam ingatan mereka yang pernah merasakan bimbingannya. Duka itu mungkin tak terucap sepenuhnya, tetapi doa-doa yang dipanjatkan malam itu menjadi bukti bahwa sosok Irjenpol (P) Drs Edward Aritonang MM meninggalkan jejak yang dalam di hati banyak orang.

Pandangan Hidup Bangsa

Selanjutnya pendapat disampaikan DR Sahyan Asmara. Ia mengatakan
Pancasila sebagai pandangan hidup bagi seluruh rakyat Indonesia. Sampai-sampai pihaknya di organisasi Pemuda Pancasila diberikan masukan kalau mau memandang Pancasila sebagai organisasi, maka perilaku dan nilai-nilai Pancasila harus diterapkan dalam kehidupan. Kalau tidak, tinggalkan Pancasila.

Dikatakannya Pancasila adalah pilar pandangan hidup vangsa dan negara.
Pak Harto tetap menjaganya. Pada masa Reformasi, Pancasila hampir hilang, sebagai contoh dalam UU 40/99 Tentang Pers, kata-kata Pancasila tak ada sebab negara kita ini diiringi menuju liberal.

Dalam.perjalanan pemerintahan ini mulai dari Pemerintahan BJ Habibi, Gus Dur, Megawati, Pancasila agak-agaknya mulai tergerus, sekarang nilai-nilai Pancasila mulai dihidupkan lagi. “Kalau negara di dunia ini sudah memiliki paham-paham. Paham negara Indonesia lain. Semua bisa diakomodir dan bisa jaga keserasian dan keselarasan, keseimbangan cita-cita bangsa dan negara,” ujar Datuk Sahyan, Deputi Menpora masa Menpora Adhiyaksa Dault.

Katanya sebab ada kegelisahan saat ini maka digagaslah FPPP, sebelumnya sudah ada tapi tak berkembang. Forum Pengawal Pengamalan Pancasila ini dideklarasikan sangat tepat sekali. Kita harus berbicara tentang Pancasila, 36 butir pengamalan Pancasila sangat bagus dari uraian Pancasila tersebut.

“Kita bukan untuk kembali ke masa lalu, tapi harus kita kembalikan nilai-nilai Pancasila itu ke dalam kehidupan anak bangsa pada saat ini agar kita bisa menuju aman adil dan sejahtera. Mari kita mulai kembali mengawal nilai nilai Pancasila dan memberikan pemahaman tentang Pancasila tersebutn kepada anak bangsa,” ujarnya.

Pancasila Tergerus

Sementara inisiator yang lain Syarifuddin Siba mengatakan nilai-nilai Pancasila telah tergerus, telah sama kita lihat kerusakan-kerusakan itu. Karenanya kita kumpul di sini mendiskusikan kerisauan dengan nilai-nilai Pancasila. Apalagi kita yang tua-tua ini telah mengalami penataran P4.
“Saat ini tak kita tengok lagi nilai nilai Pancasila itu. Pakar-pakar di Jakarta pun risau juga melihat kondisi bangsa ini. Moral kehancuran, korupsi bisa saja terjadi. Keadilan tak adil, hukum berbelok-belok, demokrasi seperti permainan,” papar Siba, Tokoh Melayu ini.

Baca juga:  *Pelindo Regional 1 Belawan Salurkan 5 Ekor Sapi Kurban untuk Masyarakat Sekitar Pelabuhan*

Sedangkan tujuan Pancasila, katanya adalah menciptakan keselaran dan keseimbangan hidup anak bangsa dan kehidupan negara.Tetapi saat ini, apa yang dibuat salah, semua pada tenang-tenang saja.
Satu dekade tak ada yang berani cakap. Kehancuran datang. Tetapi alau kita sudah memiliki pemimpin yang berideologi, barulah bangsa dan negara ini bisa diperbaiki. “Utang negara itu adalah kehancuran. Ketidakadilan setelah reformasi, kondisinya orang mudah saja marah dan emosi. Saat ini momentum sudah datang dan sifatnya tak lama, kalau tak diambil cepat maka momentum itu bisa hilang. Kami berterima kasih kepada Walikota Medan yang telah menyambut baik kegiatan ini dan mendukungnya,” jelas Syafaruddin Siba.

Viralkan F3

Sementara Tokoh Masyarakat yang lain dari kalangan akademisi dan sejarawan, Wara Sinuhaji berbicara tentang Pancasila, katanya harus ingat Bung Karno. “Kita harus ingat Bung Karno. Sebelum Pak Harto berkuasa, Pancasila.bebas diterjemahkan. Lalu Bung Karno mencari ideologi yang tepat maka ia rumuskan Pancasila dan sampai mengalami beberapa kali perubahan. Setelah Bung Karno jatuh, maka timbul Pancasila versi bari yaitu dengan pemahaman Pancasila yang tunggal,” katanya.

Dengan dideklarasikannya  forum ini maka nilai nilai luhur Pancasila itu bisa kita semaikan dan tumbuh kembangkan. Dan satu yang perlu diingat bahwa Medan sering jadi pelopor dari beragam ide, organisasi, forum dan lainnya, tetapi untuk F3 ini tindak lanjutnya jangan nol. Kita harus giat dan viralkan forum ini,” tutup Wara. Usai sejumlah tokoh memaparkan soal Pancasila maka Suyadi San memimpin pembacaan Deklarasi Forum Pengawal Pengamalan Pancasila dengan didampingi tokoh-tokoh Sumatera Utara dan kemudian diakhiri protokol bersama. erde, Team/Red

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *