banner 728x250

Ketum PWDPI : Selamat HUT Ke-1 PWDPI DPW Sumut*

Ketum PWDPI : Selamat HUT Ke-1 PWDPI DPW Sumut*

banner 120x600
banner 468x60
BAGIKAN

 

banner 325x300

Jakarta , Galaxy Monitor 21 Januari 2026

Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Wartawan Duta Pena Indonesia (PWDPI), M. Nurullah RS, menyampaikan ucapan selamat yang hangat atas perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PWDPI Sumatera Utara (Sumut), yang juga menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) Awal Tahun 2026 di Cafe Taman Rajawali, Medan, Sabtu (17/1/2026).

Ketum PWDPI, Nurullah mengapresiasi penuh pelaksanaan rakor dan perayaan HUT yang berjalan lancar di bawah kepemimpinan Ketua DPW PWDPI Sumut Dinatal Lumbantobing, S.H.

“Ucapan selamat dan sukses selalu untuk DPW PWDPI Sumatera Utara pada HUT ke-1. Perayaan ini bukan hanya momen untuk merayakan kelahiran organisasi di daerah tersebut, tetapi juga bukti komitmen kuat dalam memperkuat peran pers sebagai garda terdepan demokrasi,” ujarnya pada Selasa (20/1/2026).

Ketum DPP PWDPI juga memberikan apresiasi terhadap langkah strategis yang dilakukan melalui rakor awal tahun, yang bertujuan untuk menjabarkan tugas dan fungsi masing-masing bidang serta merencanakan kegiatan tahun 2026.

“Rakor yang diselenggarakan menjadi pondasi penting untuk memastikan seluruh program kerja dapat berjalan dengan baik dan terarah. Hal ini menunjukkan bahwa DPW PWDPI Sumut memiliki visi yang jelas dalam mengembangkan organisasi dan meningkatkan kualitas jurnalistik di daerah,” kata Ketum PWDPI yang mengaku sudah memiliki cabang di 30 Provinsi dan 1000 Media yang tergabung.

Baca juga:  Ketua LPM Kecamatan Medan Helvetia Bung Arya Silaturahmi ke Kantor Camat, Perkuat Sinergi Pembangunan

M. Nurullah yang juga sebagai Aktivis 98 serta penguat Media Sosial menegaskan bahwa pesan penting tentang profesionalisme, independensi, dan integritas jurnalistik yang disampaikan oleh Dinatal Lumbantobing sangat selaras dengan tujuan utama PWDPI secara nasional.

“Para jurnalis di Sumut yang bergabung dalam PWDPI adalah bagian dari gerakan bersama untuk menghadirkan informasi yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi masyarakat. Kita sangat menghargai dedikasi mereka yang bekerja tanpa kenal lelah untuk menjalankan tugas mulia ini,” tambahnya.

Ia juga mengapresiasi penekanan pada solidaritas dan kesatuan yang disampaikan oleh pengurus DPW PWDPI Sumut.

“Pers adalah profesi yang membutuhkan kerja sama dan dukungan satu sama lain. Semangat solidaritas yang dibangun di Sumut menjadi contoh bagi daerah lain untuk terus memperkuat tali persaudaraan antar insan pers,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, M. Nurullah berharap DPW PWDPI Sumut dapat terus berkembang, menjadikan organisasi sebagai wadah yang efektif untuk meningkatkan kapasitas jurnalis serta mengawal proses demokrasi di Sumatera Utara.

Baca juga:  Dibalik Layar Demokrasi: 'Jeritan Jurnalis Independen yang Tak Terdengar!!' Sumatera Utara // Katanya, jurnalisme adalah pilar demokrasi. Tapi, coba tengok nasib para jurnalis independen yang berjuang sendirian. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, atau mungkin lebih tepatnya, badut di panggung kekuasaan yang sesekali diizinkan tampil, Sabtu.(27/9/25) Terikat Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, mereka diharapkan menjadi anjing penjaga kebenaran. Tapi, di tengah hutan belantara informasi dan kepentingan, siapa yang menjaga anjing penjaga itu sendiri?. Di era digital yang katanya serba bebas ini, media online mandiri bermunculan bagai jamur di musim hujan. Namun, jangan tertipu dengan gemerlap dunia maya. Di balik layar, para jurnalis independen ini berdarah-darah demi mempertahankan eksistensi. Mereka adalah "one-man show" yang harus melakukan segalanya sendiri, dari mencari berita, menulis, mengedit, mempublikasikan, hingga membayar tagihan hosting. Sebuah orkestra tunggal yang tak pernah mendapat tepuk tangan meriah. "Idealisme?, Tentu saja!", Para jurnalis independen ini punya keyakinan kuat untuk menyajikan informasi yang akurat, berimbang, dan bermanfaat bagi masyarakat. Mereka ingin menjadi suara bagi mereka yang tidak terdengar, mengungkap fakta-fakta yang disembunyikan, dan mengawasi jalannya pemerintahan. Namun, idealisme saja tidak cukup untuk membeli beras, apalagi membayar sewa kontrakan. Ironisnya, banyak jurnalis independen yang harus mencari penghasilan tambahan di luar dunia jurnalistik. Ada yang menjadi penulis lepas, konsultan media sosial, atau bahkan berjualan online. Mereka bekerja keras untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga, sementara media online mereka terbengkalai. Sungguh pilu!, Seperti kata pepatah Jawa, "Jer Basuki Mawa Beya", untuk mencapai kesuksesan memang dibutuhkan pengorbanan. Namun, pengorbanan seperti apa yang pantas untuk sebuah idealisme yang tak dihargai, bahkan seringkali diinjak-injak?. Jangan harap para narasumber akan menghargai keberadaan jurnalis independen. Bagi mereka, media online mandiri hanyalah secuil debu di antara media mainstream yang gemerlap. Mereka lebih memilih untuk memberikan informasi kepada media yang lebih populer, tanpa peduli dengan upaya jurnalis independen yang juga ingin berkontribusi dalam menyebarkan informasi. Lebih parah lagi, tak jarang para jurnalis independen ini harus menghadapi perlakuan tidak pantas dari pihak tertentu atau oknum pejabat. Mereka diremehkan, diintimidasi, bahkan dihalang-halangi dalam menjalankan tugas jurnalistik. Pernahkah kita mendengar kisah jurnalis yang diusir dari acara publik, atau diancam hanya karena bertanya terlalu kritis?, Beberapa oknum bahkan tak segan-segan melontarkan kata-kata kasar atau melakukan tindakan kekerasan, seolah mereka pengganggu, bukan pencari kebenaran. Luka ini semakin menganga ketika para pelaku seolah kebal hukum dan bebas berkeliaran. Sungguh ironis!. Yang lebih menyakitkan, terkadang ada narasumber yang seolah-olah butuh kehadiran jurnalis independen untuk meliput acara atau kegiatan mereka. Padahal, narasumber sangat memerlukan karya-karya para jurnalis ini untuk mempublikasikan atau pencitraan profil dan aktivitas mereka. Mereka butuh sorotan, butuh pengakuan, butuh "branding" gratis. Akan tetapi, sering kali mereka tidak pernah merasa bahwa peranan para jurnalis ini memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Setelah para jurnalis ini bersusah payah meliput, menulis, dan mempublikasikan berita, mereka justru diperlakukan dengan tidak hormat. Jangankan memberikan penghargaan atau penghormatan, ucapan terima kasih pun jarang terdengar. Rasanya seperti peribahasa Sunda, "Kawas Cileuncang jauh ka tegalan," usaha yang sia-sia karena tak dihargai, bak air genangan yang tak pernah mencapai ladang yang kering. Padahal, alangkah indahnya jika para narasumber ini memberikan sedikit "Persembahan Kasih", sebagai ucapan terima kasih atas kerja keras para jurnalis. Bukan soal materi semata, tapi lebih kepada bentuk apresiasi dan pengakuan atas kontribusi mereka yang tak ternilai dalam membangun citra dan menyebarkan informasi. Sayangnya, hal ini masih menjadi mimpi di siang bolong. Sungguh memilukan! Jurnalis independen itu seperti lilin yang rela membakar diri sendiri demi menerangi kegelapan. Mereka berkorban demi menyajikan informasi yang benar dan akurat kepada masyarakat. Namun, seringkali mereka dilupakan dan diabaikan, sementara para pejabat dan narasumber lebih memilih untuk bersinar dengan lentera yang terang benderang. "Mereka lupa, lentera itu tidak akan menyala tanpa lilin yang rela berkorban!!". Atau, mungkin lebih tepatnya, jurnalis independen itu seperti petani yang menanam padi di sawah. Mereka bekerja keras membajak sawah, menanam bibit, dan merawat tanaman. Namun, ketika panen tiba, mereka hanya mendapatkan sedikit hasil, sementara para tengkulak dan pedagang besar yang menikmati keuntungan berlimpah, Sungguh tidak adil. Meski menghadapi berbagai tantangan, jurnalis independen tidak menyerah. Mereka terus berjuang dengan kreativitas dan inovasi. Mereka memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan audiens, membangun jaringan dengan komunitas, dan mencari sumber pendanaan alternatif. "Biar lambat asal selamat," mungkin itu yang menjadi pegangan mereka, seperti peribahasa Minahasa. Lebih baik berhati-hati dan tetap berpegang pada etika, daripada terburu-buru dan mengorbankan idealisme. Namun, sampai kapan mereka mampu bertahan sendirian?. Memang tidak semua pejabat atau narasumber bersikap demikian. Ada pula yang menghargai dan mendukung kerja keras jurnalis independen. Namun, jumlah mereka masih terlalu sedikit untuk menciptakan perubahan signifikan. Kehadiran jurnalis independen adalah aset berharga bagi dunia jurnalistik dan demokrasi kita. Mereka memberikan warna baru, perspektif yang berbeda, dan keberanian untuk mengangkat isu-isu yang mungkin terabaikan oleh media mainstream. Jika kita tidak ingin melihat pilar demokrasi ini runtuh, sudah saatnya kita semua bergerak. Dukungan bisa datang dalam berbagai bentuk: membaca dan membagikan karya mereka, memberikan donasi kecil, atau bahkan sekadar menyuarakan apresiasi. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian, karena jika suatu saat nanti mereka menyerah dan memilih untuk menjadi badut sungguhan di panggung hiburan, maka yang rugi adalah kita semua, masyarakat yang kehilangan mata dan telinga kebenaran. Semoga artikel ini bisa membuka mata hati kita semua, dan menyadarkan bahwa menjaga jurnalisme independen adalah menjaga demokrasi itu sendiri.(Red/Tim) Sumber: Romo Kefas (Kefas Hervin Devananda). Penulis adalah salah seorang jurnalis  di Pewarna Indonesia yang aktif mengangkat isu-isu kebebasan beragama dan hak asasi manusia. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik telah memberikan kontribusi nyata dalam menyuarakan kebenaran."

“Semoga dengan dukungan seluruh pengurus dan anggota, PWDPI Sumut dapat semakin solid, kompak, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pers Indonesia dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Terpisah, kegiatan dihadiri oleh Dewan Pengawas Gandi Togi Situmeang, S.E., Ak., M.Si beserta jajaran pengurus DPW PWDPI Sumut dari berbagai bidang, yang setelah acara utama melaksanakan makan bersama dan diskusi mengenai kinerja organisasi tahun ini.(Tim Media Group PWDPI).

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *