banner 728x250

BENCANA BELUM SELESAI…WARGA (TETAPLAH) BANTU WARGA…!!! “TEPAT 1 BULAN LEBIH PASCA BANJIR BANDANG DAN TA

BENCANA BELUM SELESAI...WARGA (TETAPLAH) BANTU WARGA...!!! "TEPAT 1 BULAN LEBIH PASCA BANJIR BANDANG DAN TA

banner 120x600
banner 468x60
BAGIKAN

 

banner 325x300

Medan -, Galaxy Monitor 18 Januari. 2026

Ahmad Daud Ketua Umum PW Gerakan Pemuda Islam (GPI) Sumatera Utara, menyampaikan “hari ini Aceh Tamiang masih berlumpur, Tapteng masih masih nestapa” Bersyukurlah 2 pekan terakhir tidak turun hujan sebagaimana yang telah terjadi pada Aceh Timur dan Pidie. Banjir menggenangi wilayah-wilayah yang secara ekosistem telah dirusak oleh pembalakan hutan.

Pembangunan Huntara ataupun relokasi warga mulai berjalan. Listrik mulai hidup mati,Tapi kondisi secara umum belum banyak berubah pasca 50 hari lebih bencana.

Mari lihat laporan resmi kementerian terkait, baru 12 persen akses infrastruktur di pedesaan yang pulih di daerah terdampak. Itu artinya progress masih jauh dari yang diharapkan.

Diatas kertas, laporan tiap hari menunjukkan seolah kemajuan sudah signifikan, faktuilnya bak jauh panggang dari api. Bagi yang sudah turun ke lapangan , akan bingung mau menghadapi semua ini.

Okey, katakanlah anggaran dari Pusat turun. Tapi kita lihatlah kemudian dilapangan. Berjalanlah di kecamatan Kuala Simpang – Aceh Tamiang atau kecamatan Tukka – Tapteng. Progress nya amat lambat, lumpur masih menggenangi akses jalan dan pemukiman warga.

Dan perhari ini, bantuan dari relawan mulai surut karena dukungan masyarakat sifatnya sukarela. Bersyukurlah negeri ini terkenal dengan kesetiakawanan yang luar biasa.

Baca juga:  Tak Ada Perlawanan dan Tidak Berdasar, Penggugat Elman Simangunsong Cabut Gugatannya di PN Medan MEDAN // Kornelius Tarigan dan Penasehat Hukumnya membaca hasil penetapan perkara Perdata nomor: 571/Pdt.G/2025/PN.Mdn oleh Ketua Majelis Hakim dan Anggota di sistem Ecourt Pengadilan Negeri Medan, pada Selasa.(14/10/25) Hasil penetapan perkara perdata register perkara nomor: 571/Pdt.G/2025/PN.Mdn yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Frans Manurung, Hakim Anggota Vera Yetti Magdalena SH MH, dan Lenny Megawati Napitupulu SH MH, disampaikan dalam persidangan bahwa menetapkan dan memerintahkan kepada Panitera PN Medan Linda Mora Hasibuan SH, agar mencoret perkara gugatan perdata tersebut. Dan juga Majelis Hakim memerintahkan secara langsung kepada penggugat agar membayar biaya perkara sebesar Rp1.100.300,00 ( Satu Juta Seratus Ribu Tiga Ratus Rupiah ). Refi Yulianto S.H., selaku kuasa hukum Kornelius Tarigan usai sidang menyampaikan kepada awak media bahwa, "Kalau begini ceritanya, sama artinya Saudara Elman Mengaku Kalah Sebelum Berperang, belum apa-apa kok sudah Mencabut Gugatannya. Hal ini patut diduga Karena Tidak Memiliki bukti atas dasar Gugatannya yang sangat tidak masuk akal", tegasnya. Sengketa tersebut diberitakan sebelumnya, terkait komisi jual beli tanah kebun sawit yang terletak , Provinsi Riau, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) seluas 460 Hektar. Dimana awalnya penggugat Elman Simangunsong sempat meminta ganti rugi sebesar Rp1,3 miliar, namun angka tersebut sempat berubah menjadi Rp700 juta kemudian jadi Rp300 juta, dan sekarang semakin aneh saja gugatan pun telah dicabut. Sehingga Pengadilan Negeri Medan dengan register perkara perdata nomor: 571/Pdt.G/2025/PN.Mdn tertanggal 6 Oktober yang lalu, menetapkan untuk menghentikan/mencabut perkara ini dan kedepannya kedua belah pihak yang terkait perkara ini tidak perlu dilanjutkan, dan dinyatakan telah dihentikan serta hasil penetapan telah dikirimkan secara elektronik melalui Sistem informasi Pengadilan pada hari itu juga. Kornelius Tarigan selaku Principal tergugat dua sangat menyayangkan keputusan Penggugat yang sudah terburu-buru mencabut gugatannya. Hal ini malah menjadi fikiran bagi kami para tergugat, jangan jangan gugatan yg diajukankan elman mangunsong ini hanyalah sebuah modus gertak-gertak sambal agar kami membayar. "Ternyata dari sekian kali mediasi, tidak ada satupun dari kami Tergugat satu, dua dan tiga yg mau membayar kepada Penggugat. Karena menurut kami tidak ada satupun dasar ataupun alasan bahwa kami harus membayar kerugian yg dimintanya. Salah pilih lawan dia itu", ucap Tarigan.(Red/Tim)

Tanpa solidaritas tersebut, maka bukan mustahil clash lebih besar akan terjadi. Pertanyaan – pertanyaan dari warga benar – benar menyayat hati, “jika kalian pergi, kami gimana?”.

Mereka bukan para pemalas, tapi hari ini para saudara kita yang terdampak tidak punya “tulang punggung” lagi. Sawah hancur, kebun musnah dan peternakan sudah lenyap”. Sepenuhnya mereka sudah jadi kaum tuna sandang, pangan dan papan. Untuk air bersih saja pun masih banyak yang harus bergantung pada support dari luar.

Ada persoalan utama di negeri ini. Seringkali yang masih perencanaan diatas kertas, dianggap sudah terealisasi. Sekian bantuan turun dari pemerintah, sekian rumah dibangun, sekian dan sekian.

Padahal prosesnya masih panjang, sekelas menteri Purbaya saja bingung ratusan miliar dana kebencanaan di Aceh Tamiang belum tereksekusi padahal narasinya sudah begitu heboh.

Kenapa demikian ? Jangan tanya rakyat dong pak menteri. Yang rakyat tahu hari ini rumah mereka masih berlumpur. Mungkin birokrasi memang belum berubah walau sudah dalam kejadian bencana. “Memperpanjang meja” udah jadi tradisi yang tak pernah selesai walau diujung tenda-tenda para lansia dan bayi sudah menderita kelaparan.

Ayo..para relawan dan warga, kembalilah kita dukung. Saudara kita di Sumatera ini masih nestapa. Ayo tetap warga bantu warga meski kita pun kadang tetap susah. Tapi ini bukan hanya sekedar lapar biasa , ada nyawa saudara kita yang dipertaruhkan juga.

Baca juga: 

Sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan. Tanpa dukungan real, kita tidak tahu bagaimana saudara kita akan menjalani berbuka dan sahur. Apalagi jika ditambah pertanyaan , bagaimana lebaran mereka ?

Semoga kita masih semangat, Warga Bantu Warga dari mulai sembako, obat-obatan, perlengkapan dan kebutuhan bayi serta kebutuhan lainnya. Untuk negara, please…relawan bukan musuh apalagi pesaing. Justru kita harusnya kolaborasi. Kalau ada kritikan maka itu justru harus jadi pintu masuk evaluasi bersama. Karena kita sejatinya satu tujuan ; segera pulih dari bencana ini. Read

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *