banner 728x250

Sembari Menanti Buka Puasa, Satgas TMMD 127 Kodim Blitar Bantu Bersihkan Rumah Warga

Sembari Menanti Buka Puasa, Satgas TMMD 127 Kodim Blitar Bantu Bersihkan Rumah Warga

banner 120x600
banner 468x60
BAGIKAN

 

banner 325x300

Blitar , Galaxy Monitor.id. 09 Maret. 2026.

Semangat pengabdian personel TNI yang tergabung dalam Satgas TMMD ke-127 Kodim 0808/Blitar tidak surut meski sedang menjalankan ibadah puasa. Di sela-sela waktu menunggu berbuka puasa atau ngabuburit, sejumlah personel Satgas yang dipimpin Pelda Fendri dari TNI AL Lanal Malang berinisiatif membantu membersihkan rumah salah satu warga di lokasi sasaran TMMD Desa Krisik Kecamatan Gandusari, Senin (9/3/2026).

Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian spontan sekaligus upaya mempererat kemanunggalan TNI dengan rakyat. Setelah menyelesaikan pekerjaan fisik utama di lapangan, para personel memanfaatkan waktu menjelang berbuka puasa untuk membantu warga yang membutuhkan.

Pelda Fendri menjelaskan bahwa kegiatan bersih-bersih tersebut dilakukan secara sukarela sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat di sekitar lokasi TMMD. Menurutnya, kebersamaan dengan warga merupakan bagian penting dari keberhasilan program TMMD.

Baca juga:  Ribuan Orang Keracunan MBG di Bandung Barat Terungkap, Ini Penyebabnya!! Jawa Barat // Sebanyak 1.333 orang lebih menjadi korban keracunan akibat Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Ternyata keracunan ini disebabkan oleh bakteri, Senin.(30/9/25) Keracunan massal ini terjadi setelah para korban menyantap MBG di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, hingga penghitungan Jum'at (26/9) yang lalu. Selain di Bandung Barat, sebanyak 657 orang mengalami gejala keracunan akibat mengonsumsi MBG di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Para korban keracunan pun beberapa sempat dipulangkan. Namun, ada pula korban yang datang kembali karena gejala muncul lagi. “Jadi semalam kami temukan 4 pasien KLB keracunan yang datang lagi padahal sebelumnya sudah dinyatakan membaik. Kebetulan saya kan ikut menangani langsung, jadi saya juga hafal betul wajahnya,” ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat Lia N. Sukandar. Setelah dilakukan penanganan medis, petugas kemudian melakukan anamnesa terhadap pasien tersebut. Anamnesa atau pengumpulan informasi medis melalui wawancara dengan pasien mengemukakan fakta bahwa penyebab gejala berulang itu karena keawaman pasien dan keluarga. “Jadi setelah kita tanya, mereka makan apa di rumah karena kan kita tidak tahu. Ternyata ada yang dikasih jeruk, terus makan ayam goreng, nah apakah itu beli atau masak sendiri kan kita nggak tahu. Jadi hal-hal itu yang membuat mereka bergejala lagi,” kata Lia. Petugas Siaga Dia pun menginstruksikan semua petugas yang siaga di posko penanganan GOR Kecamatan Cipongkor serta tempat penanganan pasien KLB keracunan lainnya agar mengedukasi pasien dan keluarganya soal apa yang boleh dikonsumsi di rumah setelah dinyatakan membaik. “Jadi saya sudah wanti-wanti ke petugas agar mengedukasi pasien bahwa ketika pulang dan dinyatakan membaik itu jangan makan yang macam-macam dulu. Cukup makan bubur saja dan harus yang dimasak sendiri,” ujar Lia. Saat ini di posko penanganan GOR Kecamatan Cipongkor tersisa 12 pasien keracunan massal. Ia siaga menerima pasien baru maupun pasien dengan gejala berulang. Bakteri Jadi Penyebab Keracunan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat mengungkapkan penyebab 1.333 orang ini. Ternyata penyebabnya karena bakteri Salmonella dan Bacillus cereus. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Labkesda Dinas Kesehatan Jawa Barat dr Ryan Bayusantika Ristandi menyampaikan bahwa bakteri ditemukan dari sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperiksa tim laboratorium. “Hasil pemeriksaan kami menunjukkan adanya bakteri pembusuk, yakni Salmonella dan Bacillus cereus yang berasal dari komponen karbohidrat dalam makanan,” kata Ryan. Dia menjelaskan, salah satu penyebab utama kontaminasi adalah rentang waktu penyiapan hingga penyajian makanan yang terlalu lama. Hal ini memungkinkan bakteri berkembang biak. Jika makanan disimpan pada suhu ruang lebih dari enam jam, apalagi tanpa pengontrolan suhu yang tepat, risiko tumbuhnya bakteri sangat tinggi,” ujarnya. Pentingnya Jaga Higienitas Ryan menekankan pentingnya menjaga higienitas dalam proses pengolahan makanan, mulai penggunaan air bersih hingga kebersihan petugas dapur. Dia menyarankan agar makanan disimpan pada suhu di atas 60 derajat Celsius atau di bawah 5 derajat Celsius untuk mencegah pembusukan. “Pemasak juga harus mengenakan sarung tangan, pakaian bersih, dan memastikan tidak ada terkontaminasi dari bahan lain,” tuturnya. Dinkes Jabar juga mengimbau semua pihak yang terlibat dalam program MBG untuk memperketat protokol keamanan pangan guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang. (Red/Tim)

“Kami ingin kehadiran kami di sini tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kenyamanan warga dalam kehidupan sehari-hari. Sambil menunggu azan Magrib, kami bantu menyapu halaman, merapikan perabotan, dan membersihkan bagian dalam rumah warga,” ujar Pelda Fendri.

Sementara itu, pemilik rumah mengaku sangat terbantu dengan kehadiran para personel Satgas TMMD. Ia merasa terharu melihat kepedulian para prajurit yang tetap meluangkan waktu membantu warga meskipun sedang menjalankan ibadah puasa. Melalui kegiatan sederhana ini, kedekatan antara TNI dan masyarakat diharapkan semakin kuat serta menumbuhkan semangat gotong royong di tengah kehidupan desa (Dim0808).

Baca juga:  Patonro Menjadi Simbol Perjuangan, Gerakan Pemuda Desak DPRD Gowa Cabut Perda LAD Nomor 5 Tahun 2016

Team Galaxy Monitor.id ( GM )

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *