banner 728x250

Haidar Alwi: Perang Amerika Bukan Soal Tanah, Tapi Dolar. Dunia Dipaksa Membayar.*

Haidar Alwi: Perang Amerika Bukan Soal Tanah, Tapi Dolar. Dunia Dipaksa Membayar.*

banner 120x600
banner 468x60
BAGIKAN

 

Jakarta. Berita Nasional ,Galaxy Monitor.id ( GM ) 08 April 2026

banner 325x300

Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran hari ini tidak bisa lagi dipahami sebagai konflik geopolitik konvensional. Ia bukan sekadar perebutan wilayah, bukan pula benturan ideologi atau kepentingan regional. Yang berlangsung adalah ekspresi dari satu arsitektur global yang secara aktif mempertahankan dominasi ekonomi dan moneter Amerika Serikat melalui instrumen yang saling terhubung: dolar, energi, dan kontrol terhadap stabilitas global.

Dalam konfigurasi ini, perang tidak berdiri sebagai kegagalan diplomasi, melainkan sebagai bagian inheren dari sistem. Ia berfungsi sebagai alat koreksi struktural ketika terjadi gangguan terhadap keseimbangan kekuasaan yang menopang dominasi tersebut. Ketika konflik pecah di kawasan strategis, efeknya tidak berhenti pada dimensi militer, tetapi langsung merembet ke volatilitas harga energi, fluktuasi nilai tukar, dan tekanan inflasi global.

Realitas ini menjadi semakin signifikan ketika dikaitkan dengan posisi utang Amerika Serikat yang telah melampaui US$39 triliun. Dalam kerangka ekonomi klasik, angka tersebut merepresentasikan risiko sistemik. Namun dalam kerangka ekonomi-politik global, posisi Amerika justru berbeda secara fundamental karena ia menguasai mata uang cadangan dunia.

Ir. R. Haidar Alwi, MT – Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menegaskan bahwa konflik global hari ini harus dibaca dalam perspektif struktural yang lebih dalam.

*“Dalam literatur ekonomi-politik internasional, posisi Amerika Serikat dapat dijelaskan melalui konsep hegemonic monetary order, di mana satu negara tidak hanya menjadi pelaku dalam sistem, tetapi juga penentu parameter sistem itu sendiri. Status dolar sebagai reserve currency global menciptakan apa yang oleh ekonom disebut sebagai ‘exorbitant privilege’, yakni kemampuan untuk membiayai defisit melalui ekspansi moneter tanpa konsekuensi domestik yang proporsional. Dalam praktiknya, kebijakan seperti quantitative easing dan penyesuaian suku bunga oleh Federal Reserve menghasilkan transmisi tekanan ke ekonomi global melalui mekanisme capital flow reversal, imported inflation, dan exchange rate pass-through. Dengan demikian, utang Amerika tidak diselesaikan dalam kerangka fiskal internal, tetapi direstrukturisasi secara implisit melalui distribusi tekanan ke negara lain yang berada dalam orbit sistem dolar,”* tegas Haidar Alwi.

Baca juga:  MANDAT RESMI DIBERIKAN, DPD PUJAKETARUB KOTA MEDAN SIAP MENGABDI UNTUK MASYARAKAT DAN MENJAGA MARWAH PAGUYUBAN

Pernyataan ini menggeser cara pandang dari sekadar melihat krisis sebagai fenomena ekonomi, menjadi memahami krisis sebagai instrumen yang terdistribusi secara struktural. Amerika tidak sekadar menghadapi tekanan, tetapi memiliki kapasitas untuk mengalihkan tekanan tersebut ke sistem global.

*Utang Amerika dan Eksternalisasi Risiko Global.*

Dominasi dolar dalam sistem global menciptakan ketergantungan yang bersifat struktural dan asimetris. Lebih dari setengah cadangan devisa dunia disimpan dalam dolar, sementara sebagian besar transaksi perdagangan internasional tetap menggunakan mata uang tersebut. Ini menjadikan Amerika sebagai pusat likuiditas global sekaligus pengendali distribusi risiko.

*“Dalam kerangka global financial cycle, kebijakan moneter Amerika Serikat memiliki efek ekstrateritorial yang signifikan. Ketika Federal Reserve melakukan tightening, maka terjadi kontraksi likuiditas global yang memicu capital outflows dari emerging markets, depresiasi mata uang lokal, dan peningkatan sovereign risk. Sebaliknya, ketika ekspansi likuiditas dilakukan, tekanan inflasi global meningkat melalui kenaikan harga komoditas dan pelemahan daya beli mata uang non-dolar. Dalam kedua kondisi tersebut, negara-negara di luar pusat sistem tidak memiliki kapasitas untuk mengisolasi dampak, karena integrasi mereka ke dalam sistem dolar bersifat struktural, bukan pilihan,”* lanjut Haidar Alwi.

Dengan demikian, yang disebut sebagai stabilitas global pada dasarnya adalah stabilitas yang dihasilkan dari distribusi tekanan. Amerika mempertahankan keseimbangannya dengan cara memindahkan beban ke luar wilayahnya.

*Petrodolar, Energi, dan Reproduksi Hegemoni.*

Energi memainkan peran sentral dalam mempertahankan dominasi tersebut. Sistem petrodolar mengikat perdagangan minyak global pada dolar, menciptakan permintaan permanen terhadap mata uang tersebut terlepas dari kondisi fundamental ekonomi Amerika.

*“Dalam perspektif geopolitik energi, denominasi dolar dalam perdagangan minyak berfungsi sebagai mekanisme reproduksi hegemoni moneter. Selama energi global tetap ditransaksikan dalam dolar, maka permintaan terhadap dolar akan terus terjaga, menciptakan siklus yang memperkuat posisi Amerika sebagai pusat sistem. Oleh karena itu, stabilitas di kawasan produsen energi tidak selalu menjadi tujuan utama, melainkan pengelolaan ketidakstabilan agar tetap berada dalam batas yang dapat dikendalikan,”* ungkap Haidar Alwi.

Konflik di Timur Tengah harus dibaca dalam kerangka ini. Kawasan tersebut tidak hanya penting secara geografis, tetapi juga secara sistemik dalam menjaga keberlangsungan arsitektur global yang ada.

Baca juga:  Ribuan Orang Keracunan MBG di Bandung Barat Terungkap, Ini Penyebabnya!! Jawa Barat // Sebanyak 1.333 orang lebih menjadi korban keracunan akibat Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Ternyata keracunan ini disebabkan oleh bakteri, Senin.(30/9/25) Keracunan massal ini terjadi setelah para korban menyantap MBG di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, hingga penghitungan Jum'at (26/9) yang lalu. Selain di Bandung Barat, sebanyak 657 orang mengalami gejala keracunan akibat mengonsumsi MBG di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Para korban keracunan pun beberapa sempat dipulangkan. Namun, ada pula korban yang datang kembali karena gejala muncul lagi. “Jadi semalam kami temukan 4 pasien KLB keracunan yang datang lagi padahal sebelumnya sudah dinyatakan membaik. Kebetulan saya kan ikut menangani langsung, jadi saya juga hafal betul wajahnya,” ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat Lia N. Sukandar. Setelah dilakukan penanganan medis, petugas kemudian melakukan anamnesa terhadap pasien tersebut. Anamnesa atau pengumpulan informasi medis melalui wawancara dengan pasien mengemukakan fakta bahwa penyebab gejala berulang itu karena keawaman pasien dan keluarga. “Jadi setelah kita tanya, mereka makan apa di rumah karena kan kita tidak tahu. Ternyata ada yang dikasih jeruk, terus makan ayam goreng, nah apakah itu beli atau masak sendiri kan kita nggak tahu. Jadi hal-hal itu yang membuat mereka bergejala lagi,” kata Lia. Petugas Siaga Dia pun menginstruksikan semua petugas yang siaga di posko penanganan GOR Kecamatan Cipongkor serta tempat penanganan pasien KLB keracunan lainnya agar mengedukasi pasien dan keluarganya soal apa yang boleh dikonsumsi di rumah setelah dinyatakan membaik. “Jadi saya sudah wanti-wanti ke petugas agar mengedukasi pasien bahwa ketika pulang dan dinyatakan membaik itu jangan makan yang macam-macam dulu. Cukup makan bubur saja dan harus yang dimasak sendiri,” ujar Lia. Saat ini di posko penanganan GOR Kecamatan Cipongkor tersisa 12 pasien keracunan massal. Ia siaga menerima pasien baru maupun pasien dengan gejala berulang. Bakteri Jadi Penyebab Keracunan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat mengungkapkan penyebab 1.333 orang ini. Ternyata penyebabnya karena bakteri Salmonella dan Bacillus cereus. Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Labkesda Dinas Kesehatan Jawa Barat dr Ryan Bayusantika Ristandi menyampaikan bahwa bakteri ditemukan dari sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperiksa tim laboratorium. “Hasil pemeriksaan kami menunjukkan adanya bakteri pembusuk, yakni Salmonella dan Bacillus cereus yang berasal dari komponen karbohidrat dalam makanan,” kata Ryan. Dia menjelaskan, salah satu penyebab utama kontaminasi adalah rentang waktu penyiapan hingga penyajian makanan yang terlalu lama. Hal ini memungkinkan bakteri berkembang biak. Jika makanan disimpan pada suhu ruang lebih dari enam jam, apalagi tanpa pengontrolan suhu yang tepat, risiko tumbuhnya bakteri sangat tinggi,” ujarnya. Pentingnya Jaga Higienitas Ryan menekankan pentingnya menjaga higienitas dalam proses pengolahan makanan, mulai penggunaan air bersih hingga kebersihan petugas dapur. Dia menyarankan agar makanan disimpan pada suhu di atas 60 derajat Celsius atau di bawah 5 derajat Celsius untuk mencegah pembusukan. “Pemasak juga harus mengenakan sarung tangan, pakaian bersih, dan memastikan tidak ada terkontaminasi dari bahan lain,” tuturnya. Dinkes Jabar juga mengimbau semua pihak yang terlibat dalam program MBG untuk memperketat protokol keamanan pangan guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang. (Red/Tim)

Gangguan terhadap distribusi energi tidak selalu melemahkan sistem. Dalam banyak kasus, justru memperkuatnya dengan meningkatkan ketergantungan global terhadap mekanisme yang sudah ada.

*Koersi Sistemik dan Ilusi Stabilitas Global.*

Pendekatan politik Amerika memperlihatkan integrasi antara kekuatan militer dan instrumen ekonomi dalam satu kerangka yang koheren. Sanksi, tekanan diplomatik, dan intervensi militer tidak berdiri sendiri, tetapi saling melengkapi dalam menjaga kepatuhan terhadap sistem.

*“Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep coercive economic statecraft, di mana stabilitas global tidak dibangun melalui konsensus, melainkan melalui kombinasi tekanan ekonomi dan dominasi institusional. Dalam kondisi ini, stabilitas yang dihasilkan bersifat semu, karena bergantung pada ketergantungan struktural negara lain terhadap sistem yang dikendalikan oleh satu pusat kekuasaan,”* tegas Haidar Alwi.

Konflik tidak selalu diselesaikan, karena penyelesaian total justru berpotensi mengurangi kebutuhan terhadap sistem intervensi. Ketegangan dipertahankan pada tingkat tertentu agar sistem tetap relevan.

*Perang ini bukan tentang tanah. Ini tentang dolar.*

Yang terjadi hari ini bukan sekadar konflik antar negara, tetapi mekanisme yang mempertahankan struktur global yang timpang. Dan dalam sistem seperti ini, perang bukan anomali.
Perang adalah bagian dari desain sistem itu sendiri.

*“Selama sistem moneter internasional tetap bersifat unipolar tanpa mekanisme penyeimbang yang efektif, maka setiap krisis akan selalu memiliki pola yang sama: eksternalisasi risiko dari pusat ke pinggiran, peningkatan ketimpangan global, dan reproduksi ketergantungan struktural,”* pungkas Haidar Alwi.

Team Galaxy Monitor.id ( GM )

Harus Berimbang dan Persuasif 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *